Kuliah Double itu... (FAQ)

Oktober 19, 2015
Photo by Aron Visuals on Unsplash

As a double majors program at Management and Communication Science,aku lebih suka untuk tidak mengumbar cerita kuliah double-ku kecuali kalo jadwal bentrokan. Lho kok? Tapi posting kali ini sengaja untuk menjawab pertanyaan beberapa orang yang memang kadang agak eehhh.. ya sudah mending dijawab aja di post ini.

Sedikit bercerita, keputusanku ikut SBMPTN tahun lalu memang sebenarnya menjawab tantangan seseorang dan ternyata aku berhasil menaklukan tantangannya. Wew, diterima di salah satu jurusan yang sempat aku impikan membuatku senang dong. Ditambah aku yang sempat mempertanyakan sisi humanis dari dunia korporasi (ini serius benerean serius) yang belum terjawab ketika kuliah di manajemen, menjadikan diterimanya di Komunikasi sebagai ajang pencarian jawaban dari pertanyaan itu.

Kuliah dua itu…
Beban sks lebih banyak dari rata-rata mahasiswa per semester, jumlah teman (atau bisa saja orang itu freenemy) juga bertambah, jumlah buku yang dibaca semakin banyak dan luas (dan alhamdulillahnya cuman sekali salah paham sama buku yang dibaca, buku terkom dikira buku akuntansi manajerial), jumlah project mahasiswa yang dikerjakan lebih banyak dan ini yang paling krusial, waktu untuk segera lepas dari dunia kampus makin panjang.
Aku secara pribadi menikmati seluruh kesibukanku dengan urusan diatas. Seperti kata Gabrielle Isler, Miss Universe 2012 ‘just enjoy your moment’, aku juga berusaha untuk amat sangat menikmati setiap momen dari dunia perkuliahan yang sangat intens. Termasuk momen ketika dinyatakan dicekal dari mata kuliah yang sebenarnya biasa diakali (tapi takut dosa, jadi ga dilakukan) dan juga mengulang mata kuliah yang dicekal. Juga momen ketika sudah bekerja amat sangat keras untuk mata kuliah tertentu dan nilai yang keluar di bawah huruf B (silahkan tebak sendiri)
Sedih sih pasti, tapi aku selalu mengusahakan diriku untuk menjadi orang yang punya semangat buat ngejalaninnya. Rasa sedih makin bertambah ketika dosen nanya apakah aku punya prospek pasangan yang bersedia menerimaku seperti ini (sumpah sampai sekarang, hal yang galau-able ini membuat aku berhati-hati kalo ngobrol sama siapapun untuk ga menginjak topik ini dan menjadi baper selama beberapa minggu). Ada beberapa orang (sengaja bilang beberapa aja) yang melihat diriku sepertinya menjadi full time wanita karier. Ada juga yang menyangsikan kapan aku menikah (urusan jodoh menjodoh ini aku beneran angkat tangan dan ogah tahu), dan diwanti-wanti orang tua terutama ibu kapan memperkenalkan calon (astaga, prospek calon aja ga ada apalagi calon -___-”)
Hmm… dan kuliah double itu belum tentu anak itu beneran amat sangat pintar. Ini mitos yang perlu digarisbawahi. Kalo aku bilang, siapapun yang kuliahnya jurusannya kemana-mana melebarnya malah rajin dan pekerja keras karena dia harus memenuhi tuntutan hidup yang nggak mudah untuk jadi sarjana ataupun master. Jam tidur yang mungkin ga sampai 6 jam per hari juga menjadi alasan bagus kenapa aku bilang begitu. Honestly, I’m in love with sleeping every time. Tapi habis itu, jangan mentang-mentang ada yang kuliah double semua tanggung jawab urusan yang sebenarnya ga penting jangan dikasih ke aku loh ya. Karena otak dan tenaga yang sudah terkuras habis untuk menjalani tridarma perguruan tinggi (yang bisa aja aku kuadratin) membuat para anak yang kuliah double kalo punya waktu rehat dikit dan nempel sama kasur dipakai untuk istirahat atau membalas chat yang menumpuk.
Jadi, FAQ ini semoga dapat membantu pemikiran teman-teman bagi yang penasaran bagaimana rasanya kuliah double. Oh ya satu lagi, kalo janjian kudu ontime. Setiap menitnya serasa setiap jam bagi yang kuliah double untuk digunakan sebaik-baiknya. Terimakasih dan sekian :)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.