Berbicara Jujur Tentang Move On dan Rencana Masa Depan

Juli 28, 2020

"Mau sampai kapan?"
"Sampai nanti..,"


Photo by Florian Wehde on Unsplash

Dunia terus berputar. Tapi duka tetap selalu ada. Itu pemikiran saya selama 11 bulan ke belakang, yang membuat saya rasanya takut dan mengabaikan orang lain untuk sementara waktu. Saya memilih untuk berduka dalam waktu yang lama. 

Bagi sebagian besar orang menilai bahwa apa yang saya rasakan dan lalui tidak ada apa-apanya bagi mereka. Dan rasa-rasanya hanya turut ikut berduka sesaat saat saya muncul sementara dan kemudian, mereka pergi dengan kesibukan masing-masing. 

Menjadi seorang dewasa muda mendekati tua, sudah saatnya memang belajar melepaskan. Entah barang, dan juga hubungan dengan sesama manusia. Timbul tenggelamnya kita dalam perasaan berduka memang takkan pernah ditunggu. Itulah hal yang saya pelajari selama 11 bulan ini dan juga saat pandemi ini terus berjalan menimbulkan korban baru. 

Penerimaan, mungkin adalah hal yang paling sulit yang pernah dilakukan berbarengan dengan move on. Hal yang saya alami selama 11 bulan ke belakang adalah hal yang baru pernah saya alami dan jujur, saya tidak tahu bagaimana mengatasinya. Ada perasaan marah, takut, kesal, lelah, dan malu. Dan juga diabaikan. Ada hari-hari dimana saya memilih mengurung diri dan menghabiskan waktu menatap kosong dinding kamar karena tidak tahu apa yang akan saya lakukan. 

Rasa duka memuncak ketika saya harus melewati masa pandemi di rumah sakit. Walau bukan saya yang sakit secara fisik, saya mencapai titik benar-benar merasa lelah dan memilih untuk menulis surat. Surat-surat tersebut berkeliling ke seluruh penjuru dan sedikit menyembuhkan saya dengan bercerita secara jujur apa yang saya alami. 

Move on mengajarkan saya mengikhlaskan. Apa yang sudah tertabur yang tak bisa ditarik kembali. Daripada memikirkan rasa lelah dan duka saya tak berkesudahan, saya memilih untuk fokus menata kembali hidup saya. Walau sejujurnya, rencana masa depan saya terlihat tidak pasti saat ini dengan berbagai pertimbangan atas situasi dan kondisi yang ada.

Saya memutuskan untuk tidak berharap 100 persen pada rasa duka saya berakhir cepat dan saya pulih sedia kala. Saya hanya ingin mengontrol apa yang bisa saya kontrol dan melakukan sesuatu dalam batas kemampuan saya. Saya masih melihat ke belakang, tetapi tidak ingin berduka lama-lama. Masih ada ribuan hari esok yang harus saya jalani, dan masih ada masa depan yang menanti untuk dikejar. 

Terimakasih telah datang, berbicara jujur mengenai aku saat ini. Let's enjoy my life to the fullest! 

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.