Volunteering at AIESEC LC Surabaya (Part 1-Being a EP's Buddy)


Halo…
Kemarin gara-gara gagal untuk PKL karena sakit, alhasil ga ada kegiatan produktif setelah sembuh. Alhamdulillah, AIESEC LC Surabaya ngasih kesempatan aku jadi volunteer disana. Volunteer dalam artian nanti AIESEC ngasih local project yang digarap bareng sama member AIESEC, EP (exchange participant) dari berbagai negara, dan juga pihak ketiga (ceileh bahasa gue) agar si volunteer paham AIESEC itu dasarnya ngapain.


Sebelum menginjak kesana, mau sharing aja aku udah kenal AIESEC sejak 2010 pas Public Relation Competitionnya HIMA Manajemen UNAIR yang dewan jurinya itu salah satunya VP AIESEC Surabaya dan jadi EP di Aljazair sebut saja Mbak Marina. Karena sharing di FB berlanjut tertarik punya pengalaman AIESEC. Tapi karena dulu awal masuk kuliah di Unesa, AIESECernya dikit bingit jadi galau buat gabung. Ditambah juga aku lebih bad mood setelah masuk Unesa gara-gara satu dua hal yang ga usah disebut, aku memutuskan untuk jadi orang paling netral di kampus, ga ikut organisasi apa-apa walau kakak kelas yang ikut HIMA dan BEM pada ngajakin. Paling banter yang diikuti ya jadi relawan di Pusat Studi dan Layanan Penyandang Disabilitasnya Unesa dan Kafe Baca Ceria.


Habis itu gara-gara kuliah double, info tentang AIESEC jauh lebih kenceng dan aku yang terkena stimulus (maaf kebanyakan baca teori S-O-R) , akhirnya aku memutuskan jadi volunteer lokal aja walau banyak yang bilang kenapa ga sekalian jadi EP di negara orang. Balik ke alasan sebelumnya yakni ga punya kegiatan produktif saat yang lain pada PKL, aku memilih 3 project AIESEC di departemen berbeda dan kira-kira bisa membunuh waktu menanti masuk Unair di akhir agustus dan Unesa di pertengahan Oktober.


Project pertama adalah menjadi buddy (teman asing) untuk EP di bawah departemen IGCDP (khusus buat EP yang datang ke Indonesia), kedua jadi OC (organizing committee) Youth Speak, dan ketiga adalah Surabaya Muda yang dua terakhir ini di departemen Media,Communication,and PR.


Post ini lebih ngebahas bagaimana jadi buddy buat EP. Sebenarnya sih periode jadi buddy itu 6 minggu.Tapi aku hanya bisa ngejalananin 3 minggu terakhir karena EPku ini dia dapat buddy sebelumnya tapi ga bisa nemenin. Alhasil, aku jadi buddynya EPku. Karena EPku anak Vietnam dan menganut agama Buddha, dia memintaku untuk nemenin dia ke Jogja ala anak backpacker. Ngapain ke Jogja? Dia pingin banget ke Borobudur.


Masih memikirkan tawarannya, kita berdua pergi ke Surabaya Night Carnival pada pertemuan pertama kami. Selang 4 hari berikutnya, aku dan EPku bernama Huyen ikut city tour dengan buddy dan EP yang lain. Disinilah aku baru tahu kalo buddy AIESEC kebanyakan cowok dan anak ITS. Satu lagi, tampangnya serius banget dan kelihatan introvert. Aku yang ekstrovert harus mengendalikan rasa kepo-ku dan juga cerewetku. Khawatir pada risih hehehe….


Huyen yang cenderung mabuk naik mobil jadi kuantar naik motor selama citytour. Sekuat-kuatnya nge-bonceng, aku sempat drop yang berakhir Huyen sempat diantar sama Fendra, salah satu buddy yang EPnya anak Jepang. Gara-gara city tour itu, aku dan Huyen jadi akrab dengan Fendra dan EPnya yang bernama Haru.


Aku dan Huyen akhirnya memutuskan pergi ke Jogja dua minggu kemudian. Nyaris banget aku datang telat karena mau farewell sama Mbak Ecci sebelum dia kuliah di Mesir, perjalanan ke Jogja penuh kejutan. Yang pertama, karena aku dan Huyen sampainya jam 22.30, kita bingung ke hotel naik apa. Setelah cari taksi lewat web dan tawar-menawar, akhirnya kita bisa ke hotel dan check in. Besok paginya ke Borobudur dengan teman SDku bernama Kezia. Karena kendala bingung naik apa, selama seharian itu kita ngandelin bis AKAP, Trans Jogja, dan juga taksi. Pas malemnya karena uang makin nipis, akhirnya sewa motor.


Di Borobudur, aku dan Kezia salah membelikan tiket Huyen ke domestic tourist ticket. Dan akibatnya kita digiring ke kantor international tourist ticket. Kita juga sempat kecele sama bis karena kelamaan ngetem. Gara-gara itu, sewa motor deh dan berakhir jalan-jalan ke Prawirotaman untuk nyobain tempo gelato yang enak dan ga bikin eneg sama malming ala hits Jogja di Malioboro. Alhamdulillah, Huyen ga ribut macem-macem malah seneng kita motoran dan dia bisa memanfaatkan skill tawar-menawar yang jauh lebih canggih dariku selama di Jogja. Besok harinya jam 3 pagi, aku,Huyen, dan Kezia ke Parangtritis Dari Tugu Jogja untuk ngejar sunrise. Jalan-jalan di Jogja berakhir setelah dari Parangtritis ke Keraton dan diajak Makhya makan gudeg langganan dia.

Jadi buddy berarti kamu harus sabar sama situasi dan kondisi yang ada di lapangan. Menenangkan emosi baik buddy dan EP juga penting karena selama EP di Indonesia, kita temannya yang bantu menerjemahkan perkataan orang-orang, bahasa non verbal, hingga kondisi yang ada. Buddy juga harus pintar-pintar ngatur waktu dan isi dompet biar baik buddy dan EP biar punya quality time yang baik.

Overall, being buddy is a lifetime experience. Karena setiap orang yang ketemu kita bawa dampak hidup yang berbeda dan itu yang menjadikannya spesial. Nikmatin aja saatnya jadi buddy dan kamu bisa cerita suatu hari nanti pengalaman ini bakal membuat kamu jadi bijaksana dan cermat travelling.

Itu aja sih… Tunggu 2 part lagi ya…
See you…

Komentar