Balada UAS Penulisan Kreatif

Juli 01, 2016

Minggu ini menjadi minggu terberat bagi seluruh Commers 2014, ujian takehome yang menumpuk dan membuat mager akhirnya dikerjakan di kampus agar segera bisa pulang kampung ke keluarga tercinta. Well, ini salah satu dari ujian takehome yakni penulisan kreatif dari sebuah peribahasa Jawa, kawruh iku gengem dinegem dadi, ing gelar sak jagad ora muat. Tapi berhubung bukan Jawa tulen banget, sempat kesulitan menuangkan arti peribahasanya ke sebuah tulisan bahasa Indonesia apalagi bahasa Inggris  .

Untuk tugas UAS kali ini, saya mengambil inspirasi dari para geodet. Bukan hal yang mudah karena pertama butuh riset nulis tentang geomatika dan teman-temannya, kehidupan sosialnya juga, lalu riset tempat. Overall, tulisan ini benar-benar membuat saya berdedikasi menulisnya dengan banyaknya riset. Tulisan ini saya persembahkan kepada setiap anak perempuan yang ingin memiliki karier di bidang yang katanya maskulin dan juga kepada setiap orang yang berkarier di bidang yang unik pula. Penasaran?

This following post has been posted teasers in Facebook under Rizky Hanna Ekaputri and Path under Hanna Soebijantoro. Also has been submitted as finale essay for creative writing's take home finale exam. Don't try for copy cut but please do share and likes.

Thank you :D 





Seperti biasa, aku menyusuri jalan sepanjang aliran sungai ini dengan langkah hati-hati. Pengalaman terpleset dan nyaris tenggelam di salah satu sungai yang katanya terpanjang di Kalimantan ini membuatku waspada. Tak sia-sia latihan bela diri maupun naik gunung tiap minggu mampu mengasah kepekaanku terhadap kondisi jalan yang beraneka ragam seperti yang kulalui sekarang. Sebagai seorang surveyor, aku harus bisa membiasakan diri untuk beradaptasi dengan beragam kondisi. Mencari data spasial hingga pendalaman harus dilakoni karena ini adalah pekerjaanku, penuh resiko tapi juga senang bisa berpetualang ke tempat yang orang lain belum tentu datangi.

Aku sekarang ditugaskan untuk mendata kembali letak spasial perbatasan Indonesia dengan Malaysia. Tak sendirian, aku bersama beberapa surveyor dan juga seorang guide agar kami bisa segera menyelesaikan pendataan yang sudah berlangsung 3 bulan terakhir. Sebenarnya, aku sudah dilarang habis-habisan mengikuti penelitian ini oleh kedua orangtua. Bagaimana tidak? Anak gadisnya berbulan-bulan tidak pulang ke rumah, sekalinya pulang ke rumah, hanya 3 hari. Itupun hanya selama hari raya Idul Fitri saja ditambah bonus sehari. Kakak laki-lakiku sudah berkali-kali memintaku untuk mengganti pekerjaan yang lebih banyak dihabiskan di berbagai pedalaman di Indonesia, mencari kebenaran tapak batas negara yang aku cintai.

Kedua orangtuaku sudah meminta untuk segera menikah saja agar tetap di rumah. Ibu sudah berkata  karena sudah di atas usia 25 tahun dan para sahabatnya sudah menikah dan punya anak, aku sudah tak mungkin lagi berkelana untuk melakukan pekerjaan yang sangat amat kucintai. Mempelajari ilmu tentang pendekatan terpadu dalam mengukur, menganalisis, dan mengelola deskripsi, dan lokasi lokasi data-data kebumian, merupakan hal yang amat aku banggakan. Aku sadar aku tak seperti wanita pada umumnya, aku suka berada di luar rumah, mencoba menjadi penjelajah dan juga surveyor. Pernah suatu kali, seorang sahabatku yang merupakan lulusan manajemen, menanyakan padaku mengapa aku betah di pekerjaan yang lebih banyak laki-lakinya daripada perempuannya. Ia sempat juga bertanya padaku seperti ini,

"Kamu mau mengejar apalagi? Kalaulah di pelupuk mata terdapat sosok yang kau cari, buat apalah kau kembali ke sekolah lagi?" pertanyaan itu mengalir lembut dari bibirnya. Keputusanku ketika aku untuk mengabdikan hidupku ke pekerjaan daripada menerima seseorang yang sudah lama aku inginkan, datang meminta ke ayah dan ibu untuk menikahiku. Di waktu yang sama, aku baru saja memulai karierku sebagai seorang surveyor dan diharuskan bertugas ke pulau-pulau yang terpencil, terluar, dan tersisir yang lebih dikenal sebagai daerah 3T untuk memperjelas batas negara di seluruh negeri.

"Jikalau aku tak mengejar dunia, tak lagi mengejar sosoknya. Apakah aku boleh menjadi syahidah dengan berilmu?" tanyaku pada sahabatku yang sibuk menggendong anaknya, menenangkannya dari tangisan yang daritadi tak kunjung reda. Aku sendiri hanya berusaha tenang, tak mengeluarkan emosi yang meletup-letup dari tadi setelah aku mengungkapkan bahwa aku akan pergi ke Stuttgart , kembali belajar untuk sebuah gelar master setelah seorang dosen membuatku mau tak mau menerima beasiswa disana.

Itu hanya satu dari sekitar respon ketika aku menunjukkan Letter of Acceptance dari Stuttgart. Orang yang berusaha untuk mendekatiku, perlahan-lahan berusaha menjauh bahkan menghapus kontakku. Kedua orangtua yang sudah menduga hal itu terjadi, menyimpulkan lebih baik aku bergegas, meninggalkan kota terbesar kedua di Indonesia. Setelah mendapat izin mereka, aku langsung mengurus persyaratan untuk tinggal dann kuliah disana. Aku sengaja untuk tak peduli lagi, dengan ide mengenai pernikahan dan memusatkan seluruh energi untuk meninggalkan Indonesia.

“Mbak, istirahat dulu yuuk… Mulainya nanti jam 1 ya,” ucap guide sambil menggelar tikar. Aku langsung memperhatikan jam  Para surveyor langsung melepas tas backpack dan juga peralatan mereka di atas tikar kemudian bergantian mengambil air wudhu dari air sungai, sedangkan sisanya menggelar sajadah untuk melakukan shalat berjamaah. Aku yang lagi tak sholat, memilih untuk duduk di tepi tikar, membuat diriku relaks sejenak dan mencari kamera mirror lens yang ada di dalam tas. Hal favorit yang kulakukan setelah pekerjaan adalah memotret, Pemandangan di sekitar sini selain sungai adalah lebatnya hutan Kalimantan yang sangat hijau. Peluang untuk datang ke tempat ini adalah peluang yang hanya datang sekali seumur hidup dari jutaan peluang yang pernah Tuhan berikan kepada hambaNya ini.

“Mbak, tidak sholat?” tanya salah satu surveyor yang sudah menyelesaikan sholat. Lebih tepatnya team leader tim surveyor ini. Aku hanya mengganggukkan kepala saja dan tersenyum tipis. Ia lalu duduk berjarak beberapa puluh sentimeter dariku sambil memperhatikan kamera mirror lens yang baru saja kunyalakan. Aku mencari sudut-sudut yang lebih cocok dijepret atau istilah anak kekinian sekarang, spot yang instagramable.

“Mengapa Mbak memilih jadi surveyor?” tanya team leader setelah beberapa kali bunyi shutter yang keluar dari kameraku. “Mohon maaf saya bertanya tiba-tiba. Tapi saya baru kali ini memimpin tim surveyor yang ada anggota perempuan…” ucapnya dengan tenang.

“Sudah lama sih, Pak. Cita-cita dari dulu, waktu pertamakali seseorang mengenalkan geomatika dulu. Saya memang suka menjelajah dan kemudian menggambar tempat yang dulu pernah saya kunjungi,” ucapku berusaha ramah. Itu hanyalah sekian mekanisme yang aku lakukan jika ada yang bertanya tentang alasan mengapa aku mempelajari geomatika dan juga memilih karier sebagai surveyor. Pertanyaan tentang dedikasi bukanlah hal yang aku inginkan saat ini, pekerjaan sudah menunggu untuk dikerjakan banyak orang dengan peralatan yang sudah dibawa jauh-jauh dari ribuan kilometer.

“Anak perempuan saya ingin menjadi surveyor,” ucapnya sambil mengeluarkan berbagai perlengkapan yang ada di tasnya. Aku berusaha mendengarkan dengan jeli apa yang dikatakan beliau yang dikenal oleh orang-orang di kantor sebagai orang yang bijaksana. “Ingin bekerja seperti ayahnya, tapi saya tak bisa mengijinkannya begitu saja. Saya tak bisa membiarkannya begitu saja untuk keluar-masuk hutan, naik-turun gunung, dan tak pulang berminggu-minggu. Pekerjaan ini seperti menghabiskan sisa usia tanpa keluarga kita,” tuturnya sambil memperlihatkan foto putrinya di telepon genggamnya. Aku tak kaget mendengarkan penuturan beliau, karena hal tersebut yang dikhawatirkan banyak orangtua ketika anak perempuan mereka –terutama satu-satunya- memberikan penjelasan tentang apa itu geomatika dan siapa yang disebut geodet.

“Bayangkan saja, Mbak. Anak mbak pergi dengan lebih banyak resiko ketidakpastian, yang belum tentu mau dijamin oleh asuransi tanpa catatan. Saya hanya ingin anak saya aman dan sehat,” ucapnya dengan nada yang sangat pelan. “Saya bertanya-tanya apa yang dipikirkan orangtua mbak ketika mengijinkan mbak untuk karier mbak sekarang, bahkan tinggal dan kuliah sendirian di Jerman. Mungkin saya bisa mendapat pandangan lain tentang cita-cita anak saya,”

Aku menarik nafas panjang dan memikirkan baik-baik pilihan kata dan rangkaian kalimat seperti apa yang akan aku katakan kepada team leader ini. Sebisa mungkin, aku harus bisa menggunakan intonasi yang terkesan diplomatis agar tak menambah beban pikiran beliau yang sudah pusing tentang keinginan anaknya yang mau mengikuti jejak karier orang tua mereka.

“Ada sebuah kalimat yang membuat saya tak ingin berhenti untuk menjadi seorang surveyor,” ucapku setelah beberapa saat keheningan menghiasi momen ini. Beberapa surveyor dan guide yang sudah selesai sholat mulai mendengarkan jawaban seperti apa yang akan kuberikan kepada seorang bapak yang khawatir anak perempuannya berkarier di bidang ini. Aku tak ingin jawabanku menimbulkan multitafsir baru saat ini.

      “Kawruh iku gengem dinegem dadi, ing gelar sak jagad ora muat,” aku mengucapkan peribahasa dalam bahasa Jawa itu pelan-pelan. Sejenak berbagai memori masa remaja berkelabatan di ingatanku. Ingatan mengenai pendakian gunung pertamaku, caraku menandai berbagai tempat yang sudah kukunjungi dengan menggambarkan ilustrasi dari foto yang telah dijepret, kotak harta karun rahasiaku yang berisi kartu pos dari berbagai tempat yang diberikan banyak orang, dan seterusnya. “Ayah saya pernah mengatakan hal itu ketika saya ingin kuliah lagi dan serius dalam pekerjaan saya sebagai seorang surveyor,”

“Kira-kira artinya adalah pengertian benar itu digenggam ya bisa, namun kalau digelar sejagad pun tak muat. Dimanapun saya berada, berapa banyak pun jumlah cabang ilmu yang saya pelajari, seberapa dalam saya mempelajarinya, seberapa lama waktu saya mendedikasikan waktu untuk melakukannya, sekuat apapun cobaan yang menghadang, saya tak boleh memiliki kekhawatiran jika saya kehilangan waktu dengan keluarga. Ilmu yang ditinggalkan Tuhan di muka bumiNya masih begitu luas, deretan gelar kesarjanaan hingga guru besar tak akan cukup untuk merangkum seluruh yang ada di muka bumi. Seperti kita sebagai seorang surveyor, apa yang kita pelajari masih banyak yang belum terbuka, masih banyak kesempatan yang harus dibuka agar kita semakin memahami mengapa manusia diciptakan untuk hidup di bumi. Semakin banyak surveyor yang lulus dari perguruan tinggi, semakin banyak kesempatan geomatika membuka luas kemungkinan-kemungkinan fenomena baru yang muncul dari hasil eksplorasi kita seperti sekarang,” aku merunut kata-kataku satu persatu agar siapapun yang mendengar mengerti apa yang kukatakan.

“Hal-hal yang mengubah dunia lahir dari keberanian. Putri Bapak mungkin ingin seperti Bapak karena anda memberikan sebuah corak yang berbeda bagaimana kehidupan seharusnya berjalan. Putri Bapak menginginkan menjalani hidup yang sama dengan Bapak karena ia ingin belajar bagaimana cara mencintai pekerjaan yang membuat Bapaknya pulang ke rumah hanya untuk beberapa hari saja dalam setahun. Pengalaman dan pengetahuan yang Bapak miliki mendorongnya agar bisa menjadi orang yang lebih baik, yang bisa mewarisi pengetahuan dan memperbaruinya melalui inovasi. Tak ada yang mudah saat menjadi surveyor dan kita semua menyakini itu. Tapi ada satu hal lagi yang akan membuat pekerjaan kita sebagai surveyor sangat berharga, bahwa kita mengenal beragam luasnya lingkungan kita, tempat dimana kita hidup dan memberitahukannya kepada anak maupun cucu kita, atau orang yang sangat kita sayangi, sebagai sebuah warisan yang sangat berharga, yang akan selalu melekat, karena kita hidup dalam ingatan itu,” sesaat aku menghentikan penjabaranku, aku meminum seteguk air. Semua orang menganggukan tanda setuju, dan setelahnya kami sibuk bekerja dengan bangga bercampur bahagia.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.