Volunteering at AIESEC LC Surabaya (Part 3-OCF Surabaya Muda 1.0-2.0)

Desember 19, 2016


Penghujung bulan Juli tahun lalu merupakan tenggat waktu menyetor perusahaan tempat magang. Berhubung sudah diterima di Angkasa Pura | Airports tapi di bulan Januari 2016, otomatis tak ada kegiatan lagi yang dilakukan dalam kurun waktu Juli-Oktober 2015. Untungnya sudah jaga-jaga dong, kegiatan apa yang akan dilakukan dalam kurun waktu tersebut *selain belajar mempersiapkan semester 3 dan mempersiapkan pitching Cresent Lab di Start Surabaya*. 


Saat KKN, beberapa minggu sebelumnya, aku menemukan kesempatan yang menarik dari AIESEC LC Surabaya. Dari SMA, sudah pingin banget masuk AIESEC karena melihat Mbak Marina, VP Marketing AIESEC LC Surabaya *lupa periodenya, yang  pasti lama banget*, dia rekomendasi AIESEC sebagai tempat pengembangan diri dengan jaringan internasional. Cuman berhubung UNESA itu sedikit ya AIESECernya saat itu, jadi bolak-balik ketinggalan oprek baik anggota maupun EwA.


Kesempatan kali ini adalah menjadi EwA yang kepanjangan dari ‘Engaged with AIESEC’ alias volunteer yang mengerjakan project AIESEC dari event keluaran AIESEC macam Youthspeak Forum dan International Career Days sampai jadi EP alias exchanger yang dikirim ke negara lain. Dengan rentang kesempatan seperti itu, AIESEC memilih kurang lebih 70 EwA dari berbagai latar belakang usia, pendidikan, pekerjaan, dan budaya untuk mencicipi secara langsung pengalaman menjadi AIESECer sebelum bergabung menjadi member. 


AIESEC mengundang nama-nama terpilih sebagai EwA ke grup LINE AIESEC. Para EwA yang terpilih berhasil membuat rame grup LINE AIESEC hingga hapeku tak bisa dipake hehehe. Kita sebagai EwA sangat excited memulai perjalanan kita yang masih 0 kilometer di AIESEC. Mbak Agita sempat memberikan kesempatan para EwA untuk menjelaskan apa itu AIESEC dan mengapa bergabung di AIESEC. Sesi tanya jawab di grup LINE tersebut berhasil membuat yang biasanya silent reader menjadi berani berbicara. 


Setelah diinkubasi (?) beberapa saat di grup LINE AIESEC, departemen yang mengurus EwA mengumumkan jika ada EwA gathering yang dibagi menjadi dua sesi karena adanya liburan. Sesi pertama dilakukan pada tanggal 28 Juli 2015 di salah satu kafe dekat ITS. Kita mempelajari dasar pengetahuan why we do what we do di AIESEC yang langsung dilanjutkan rolldance. Setelahnya, para EwA dibagi menjadi beberapa kelompok dan setiap kelompok bergantian mengisi pos-pos yang sudah terdapat perwakilan AIESEC. Mereka mendapatkan penjelasan apa saja project AIESEC yang ada dan kurun waktu pengerjaannya. Dalam kesempatan ini, reuni ketemu teman lama yang ternyata sama-sama daftar EwA hingga sesi perkenalan menjadi hal umum di acara ini. 


Kita diberikan kesempatan dalam waktu dua minggu untuk melakukan pengisian application form di project yang mau di apply hingga wawancara. Dag dig dug banget. Hehehe. Soalnya merasa paling tua sendiri karena kebanyakan angkatan 2014 dan 2015 yang daftar (bahkan ada anak SMA yang daftar EwA). Apalagi setelah diumumkan bahwa jika ada yang belum menerima project sama sekali dalam kurun waktu tersebut, grup LINE AIESEC yang sebelumnya akan dihapus dan diganti ke grup yang lebih spesifik sesuai projectnya. Tambah galau kan?


Hingga akhirnya, aku diterima di project Surabaya Muda 3.0 yang akan diselenggarakan di bulan Desember. Berselang beberapa hari, salah seorang manajer AIESEC di iGCDP bernama Mbak Dinda membutuhkan buddy untuk seorang cewek
Vietnam bernama Huyen karena buddy sebelumnya sibuk. Aku menerima tawaran Mbak Dinda dengan perasaan was-was. Huyen benar-benar cewek yang kukira pendiam ternyata kita bisa akrab setelah mencoba permainan di Suroboyo Night Carnival.


Travel Listnya sangat banyak dan harus bisa dijalani dalam sisa 4 minggu ia di Surabaya. Alhamdulillah, satu per satu tujuan jalan-jalannya tercoret dan Huyen bisa akrab sama siapapun termasuk dengan keluargaku yang kebanyakan introvert *hahaha*. Tapi ada juga saat-saat penuh ‘drama’ diantara kami ketika siklus sensi kami datang bersamaan. Aku dan Huyen memundurkan jadwal seminggu kemudian untuk keliling Jogja gara-gara itu dan menjadi sumber pertengkaran kami yang tak kunjung usai dari gojek hingga cowok.  


Sampai sekarang, ditengah kesibukan jadwal kami yang sama-sama kuliah dua jurusan (Huyen mengambil jurusan bahasa Italia dan bahasa Korea, sedikit-dikit kita
ngomong bahasa Korea kalo banyak orang, such as codes between us), kita masih menyempatkan LINE Call baik suara maupun video. Kadang-kadang Skype dengan tambahan anggota yakni Haru dari Jepang dan buddynya Fendra. Gara-gara Skype, kami sampai punya grup LINE khusus buat berinteraksi jika kita tak menyempatkan
waktu buat Skype. *Beneran niat banget :D*


Aku memulai projectku sebagai back up di Surabaya Muda 1.0 di akhir bulan September. Manajer yang menjadi supervisor projectku bernama Winny dan ia memintaku menjadi OCVP bagian Finance pada project tersebut. Awalnya aku akan mengisi OCVP bagian Event Program di Surabaya Muda 3.0. Lagi-lagi mungkin dengan keseringan jadi bendahara di CV , Winny memintaku menjadi bagian Finance. Aku diberikan job description berupa merencanakan pembiayaan project hingga pengerjaan laporan pertanggungjawaban yang populer sebagai Final Report. Karena Surabaya Muda 1.0 sudah dilaksanakan di awal bulan September, aku mengerjakan Final Report bersama Cindy, Ricky, Ica, Jo, dan Elvina.


Setelah menyelesaikan Surabaya Muda 1.0, aku, Ricky, Jo, Ica, ditambah Nawang, Taqim, dan Yuka mulai fokus mengerjakan Surabaya Muda 2.0. Beberapa dari kami memulai lagi proses coaching karena baru bergabung di tim, kemudian mencoba membuat proposal kegiatan yang terdiri dari visi misi acara hingga budget plan, setelah proposal selesai, kami akan mengalami hearing, mempresentasikan seluruh isi proposal kami di hadapan para executive board, setelah sesi tersebut, kita akan mendapatkan masukan dan juga suntikan dana untuk memulai kegiatan. 


Sudah menjadi tradisi di AIESEC untuk setiap kegiatan mereka hanya merekrut panitia tetap sebanyak 7-9 orang dalam satu tim. Tak peduli dengan besaran angka audiens mereka. Jika audiens mereka lebih dari 100 orang, ada panitia tambahan yang dapat membantu di hari H. Untuk Surabaya Muda 2.0, panitia tambahan tidak terlalu dibutuhkan karena jumlah audiensnya diatur sedikit agar kualitas diskusi berjalan lebih mendalam. Tim kami sudah mengalami rangkaian revisi berkali-kali hingga 2-3 kali hearing. Akhirnya, kami mengangkat tema tentang ‘travelling with purposes’ yang membahas secara garis besar, mengapa travelling bisa menjadi high-impact dan long-investment dengan mengundang dua dosen yang sekaligus traveler dari Unair (Mbak Kandi) dan Ubaya , serta Muda Sabudharta Jawa Timur, Agung.  

so, what did you learn the most in the project? 
I deeply realized that I’m not multitasking person, lack of motivation, and also more procrastinated that I thought I would be. I grew up more after my AIESEC journey, and focus on my own self development. This journey taught me how to deal with different characters, manage money more better, being focus on details, working with different big age gap (Ica, the oldest, she’s professional worker, Ricky’s in his third year, Jo’s in her second year, Yuka and Nawang in their first year, and Taqim in his final year in high school), confronted by your own weakness, and also open yourself to discover more about the world. Thankfully, now I can develop myself and found new friends after this journey.   






PS : 
1. Tulisan ini dibuat pada awal 2016, jadi banyak hal yang berubah setelahnya.
2. Huyen pindah ke Italia,kuliah di jurusan Interpretation and Translation, Faculty of Communication and International Relation
3. Jo mengikuti program Global Citizen di Cina, dan Ica di India. 
4. Ricky sempat menjadi OCP untuk Surabaya Muda 3.0 dan Youthspeak Forum Surabaya 2.0, setelahnya fokus menyelesaikan tugas akhirnya. 
5. Taqim akhirnya lulus SMA, dan kuliah di UWK, setelahnya menjadi manajer di salah satu departemen di AIESEC. 
6. Haru mengikuti exchange program di Oklahoma mulai bulan Juli 2016, sebelumnya ia sempat mengejutkan semua orang dengan main ke Surabaya pada bulan Februari. 
7. Yuka menjadi anggota Airlangga Photography Society, sedangkan Nawang mencalonkan diri menjadi Kahima jurusannya di UPN.
8. Setelah project Surabaya Muda 2.0 selesai, Surabaya Muda 3.0 diadakan bulan Januari 2016 dengan komposisi kepanitiaan yang hampir sama kecuali untuk OCF, OCProgram, dan OC Communication karena aku yang memutuskan fokus tugas akhir, Jo ke Cina, Nawang mengurus kakeknya yang sakit, dan Ica ke India. 
9. Kami memiliki sebuah grup untuk berkomunikasi satu sama lain hingga sekarang, mulai dari sekedar bercanda dan ngobrol serius. 


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.