Aku, Setelah Perpisahan dan Depresi

Juni 18, 2017
Banyak orang yang bilang kalau seorang dengan kepribadian ambivert atau ekstrovert sulit untuk mengalami depresi. Beberapa diantaranya berhasil menyakinkan jika hanya seorang dengan kepribadian introvert adalah tipikal orang yang gampang depresi. Sebenarnya, kedua pernyataan tersebut tak sepenuhnya benar. Depresi adalah salah satu bentuk mood disorder . 
Dulu pertamakali mengalami tanda-tanda dari depresi, aku cenderung cuek. Hanya mikir, mungkin aku lagi mood swing karena orang-orang cenderung kenal aku ekspresif. Tapi lama-kelamaan, tanda-tanda depresi ini makin menguat dan parah. Hingga suatu hari, aku terbangun dalam keadaan tak bisa bergerak dari tempat tidur. Aku baru sadar jika aku tertekan secara mental dan fisik saat itu. Keadaan diperparah dengan morning sickness berturut-turut jika mencoba membuka file maupun folder berbau skripsi semalam sebelumnya. 
Dengan segala kepasrahan, mencoba pergi ke seorang psikiater (walau sekali, tapi sedikit membantu) . Aku diminta menata ulang prioritasku saat itu. Termasuk ketika ia memintaku untuk mencoba melepaskan perpisahan dengan dua orang terdekat saat itu. Bantuan dari buku Konmari juga mendorong percepatan saya mengikhlaskan perpisahan kali ini. Walau untuk kecepatan menyelesaikan tugas, aku masih tertatih agar bisa mengejar ketertinggalan. Aku juga diminta mencari alasanku menyukai hal-hal tertentu dengan  mengerjakan hobi lama seperti filateli dan jalan-jalan sedikit membantuku untuk kembali menemukan diriku. 
Mungkin orang lain menilai hal ini adalah sebagai bentuk rasa frustasi tentang satu tujuan saya tahun ini. Hanya saja, depresi kadang muncul, kadang pergi sementara sesuka hati. Memperjuangkan diri untuk bisa hidup dengan depresi dan membuka diri adalah tantangan terbesar. Menjauhi orang-orang yang biasa kita dekat sehari-hari karena khawatir depresi ini semakin menekan mereka juga sangat  sulit. 
Aku merasakan sulit luar biasa untuk mencoba berbagi beban depresi ini ke orang lain karena kebanyakan orang bakal bilang, “ah alasan…” atau “ih ngapain…” dan bisa saja, “pembelaan kan ini?” . Tak heran, mungkin beberapa percobaan dan kasus bunuh diri sulit dicegah karena banyaknya persepsi orang mengenai depresi yang dialami. Untuk kasusku, aku cukup beruntung karena aku sahabat yang bukan tipikal menghakimi dan selalu mencoba memberikan slot waktu di tengah kesibukan mereka yang padatnya naudzubillah untuk aku bercerita. Termasuk cerita kamu, dan dia. 
Aku tak bisa memastikan kapan aku berpisah dengan depresi ini. Mungkin yang aku tahu, aku harus berjuang kembali agar aku bisa menyelesaikan beragam tanggungan yang ada daripada mengiyakan  keinginan mencoba untuk mati berkali-kali. Usaha aku, dan teman-teman yang mengalami depresi, butuh banget dukungan teman-teman yang lain. Tak perlu rumit, cukup mendengarkan dan menguatkan, kami berterimakasih.

6 komentar:

  1. Aku juga pernah mengalami depresi. Untuk kasusku tak sampai ke psikiater sih. Tapi rasa trauma itu tetap ada. Maka pelarianku ke tulisan blog. menulis terapi yg mujarb

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, Mbak Firsty. Sebelumnya salam kenal,Mbak. Terimakasih sudah mampir ke blog aku dan sharing pengalamannya Mbak. Mungkin idenya mbak soal melarikan diri untuk menulis di blog sebagai terapi bisa aku coba. :)

      Hapus
  2. Semangat mbak! Bener, jika tidak ada orang yg bisa mendengar beban kita, setidaknya ada blog bisa buat menuliskan keresahan-keresahan kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, Mbak! Terimakasih atas dukungannya, semangat juga buat mbaknya :)

      Hapus
  3. depresi sebenarnya bukan hal yang tabu. ketika kita menyadari bahwa kita adalah manusia biasa yang mempunyai peluang besar untuk mendapatkan deoresi tersebut. hanya kadang kebanyakan orang melihat hal itu adalah sesuatu yang patut di hindari

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, Mbak Santiari. Terimakasih telah berkunjung disini, poin yang mbak sebutkan benar sekali di masyarakat kita tabu untuk membicarakan kesehatan mental padahal hubungan antar manusia yang sehat harus dilandasi mental yang sehat bukan?

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.