Review Mahasiswa Gen Z : Bukan Sekadar Mahasiswa Partisipan

Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash
















Hola, gengs!
Akhirnya bulan Januari bentar lagi berakhir dan aku masih belum nulis satupun blog post pada bulan ini hahaha yang akhirnya postingan blog ini rilis bulan Februari J
Yak, karena hari ini adalah ulang tahun salah satu teman aku, Demara Hediana, dan pada ulang tahun dia kali ini yang ke 22  dan lagi-lagi sudah beberapa hari terlewat cuy, Dema akhirnya merilis buku yang ditulis dari hasil observasi dia selama ini. Mahasiswa Gen Z (bisa dibaca MGZ) merupakan buku pertama Demara yang aktif di berbagai organisasi dan juga sudah menjabani beragam profesi di usianya yang sangat muda (bisa kamu cek sendiri di halaman paling belakang bukunya Demara atau cek LinkedIn dia ya).
Mahasiswa Gen Z : Bukan Sekadar Mahasiswa Partisipan nya Demara
Sebenarnya dari tahun lalu, aku sudah dikasih bukunya sama Demara dan sudah selesai bacanya. Kemarin dia juga sudah buka open PO  untuk rilis buku pertamanya ini, yang alhamdulillah banget mendapat reaksi positif no kaleng-kaleng (oke,gomene, bahasa aku jadi ikutan para Gen Z)  dari teman-teman pembaca hingga dosen-dosen Demara loh. Menurut aku, MGZ ini ga cuman buat para mahasiswa yang dari generasi Z yang boleh baca, orangtua, dosen,guru, hingga recruiter pun wajib banget baca untuk mengetahui kelakuan para generasi Z pada zaman now. Demara sebagai perwakilan generasi Z mengupas beragam problematika hidup anak-anak generasi Z dan pendapat orang-orang di sekitar generasi Z seperti orang tua, kakak senior, hingga masyarakat umum tentang generasi Z.

Penampakan aku dan bukunya Demara
Aku sebagai generasi Y dan lahir di tahun terakhir sebelum generasi Z muncul, buku MGZ sendiri membantu aku untuk mengenal lebih dekat generasi Z yang menurut aku super duper ajaib, karena antara penampakan luar dan isi kepala bisa berbeda 180 derajat. Bekerja dengan tim yang sebagian besar adalah generasi Z, pernah sekelas sama generasi Z, dan juga punya adik generasi Z, kadangkala membuat aku suka berpikir kenapa perilaku generasi Z suka banget ajaib-ajaib. Contohnya sebagai berikut: 
                      Aku                   : "Mas nya mau magang disini sudah tahu CresentLab Studio apa kan?"
                      Calon anak magang : "Belum,Mbak. Saya tahunya studio animasi..."
                      Pak Bos                    : "Mau apply magang posisi apa?"
                      Calon anak magang  : "Animasi,Mas..."
                   Pak Bos                     : "Mas nya sudah bisa apa kalau buat animasi?" (pertanyaan ini lebih ke pertanyaan bersifat skill membuat animasi, ada beberapa seperti menggambar, membuat karakter, modelling, efek, dan teman-temannya. )
                    Calon anak magang  : "Itu.... saya belum bisa sama sekali, jadinya saya mau belajar buat animasi disini," (padahal di persyaratan, sudah dicantumkan ada portofolio demi pemetaan kemampuan)
Atau kelakuan yang lebih ajaib laginya....
                   Pak Bos   : "Anak magang biasanya diproses berapa bulan,Kik?"
                   Aku         : "Sebulan lebih lah... Yang daftar banyak gitu..."
                   Pak Bos   : "Tadi gue digruduk sama anak yang apply magang gitu..."
                   Aku         : "Hah? Gimana ceritanya? Siapa sih?"
                   Pak Bos   :*menyebutkan nama oknum XYZ dan meneruskan ceritanya...*
                Aku         : "Astaga, belum seleksi selanjutnya udah minta siapa yang keterima magang baru submit ga sampai 3 hari..."


MGZ sendiri membahas secara spesifik perilaku dan bagaimana mencari solusi dari masalah akademik maupun profesionalitas mahasiswa zaman now.  Seperti ujaran orangtua sekarang yang bilang, susahnya mendidik anak di era digital yang membuat anak mereka lebih sibuk di sosial media ketimbang di dunia nyata. Ketika anak mulai mencari penyelesaian masalah pelik melalui internet ketimbang berbicara pada kedua orangtua,  guru/dosennya, atasannya sendiri, bahkan pada Tuhan.

MGZ banyak membahas bagaimana realita kehidupan yang keras dan mengajarkan mahasiswa generasi Z untuk melihat positive light dari setiap masalah, mulai berurusan dengan senior, berkomunikasi dengan keluarga, menghormati kawan dan lawan, mengejar karier akademik maupun profesional, berbaur dalam masyarakat, hingga mencintai diri sendiri. Dengan perkembangan teknologi sekarang ini juga turut menghilangkan proses pencarian jati diri dan mencintai diri sendiri apa adanya, kebanyakan membiarkan prestasi artifisial menekan kepercayaan diri yang berakibat fatal dan berujung pada depresi.  Demara menyajikan MGZ juga berdasarkan pengalaman pribadinya dari satu organisasi ke organisasi lain, dari satu proyek ke proyek lain. Dema memosisikan dirinya dari lelahnya ditolak oleh birokrasi hingga rasa bangga memperjuangkan sesuatu dalam perjalanannya menjadi seorang mahasiswa. Hal yang menurut saya membaca berulang-ulang MGZ dikarenakan selain berisi nasihat yang mudah dipahami oleh mahasiswa generasi Z, juga membuat teringat saya bagaimana mengatasi masalah dan berhadapan dengan generasi Z.

Seperti yang aku bilang di awal, membaca buku MGZ ini bukan hanya untuk mahasiswa. Semua orang bisa membacanya. Terutama untuk gerakan menikah muda tanpa perencanaan apa-apa. Patut diketahui generasi Y dan Z di Indonesia merupakan bonus demografi yang bisa produktif dan mengantarkan Indonesia sebagai negara yang 'besar' bukan karena jumlah pulau maupun penduduknya, lebih ke potensi yang bisa dikembangkan dan menghasilkan demi kesejahteraan negara dan dunia. Aku pernah menonton Explained di Netflix episode Why Women Are Paid Less, dimana membandingkan sepasang suami istri yang menikah dari tingkat pendidikan dan keluarga yang setara, kemudian istri memilih cuti dan membiarkan upah dari apa yang dikerjakan setara dengan suaminya, dibayar upahnya lebih sedikit dari suaminya. Pembayaran upah perempuan yang lebih sedikit dari suami menunjukkan betapa diskriminatifnya sebagian besar dari kita terhadap perempuan berkeluarga dan memiliki potensi mengembangkan dirinya untuk memajukan bukan hanya lingkungannya, tapi negaranya.

Generasi Y dan Z yang merupakan bonus demografi ini diharapkan untuk produktif bekerja dan memiliki aset ketimbang alih-alih memutuskan menikah di pertengahan 20-an dan berujung memperluas utang untuk membayar 'gaya hidup' yang belum sepantasnya dirasakan generasi produktif (sebenarnya bukan hak aku ngatur-ngatur sih, tapi ini perlu digarisbawahi jika mengadakan acara pernikahan, membeli rumah pertama, kendaraan sendiri, liburan instagramable sama pasangan bisa terjadi kalo memang punya uang sendiri bukan modal ala-ala) yang seharusnya memperbaiki pola hidup dirinya dan membahagiakan generasi sebelumnya (orangtua) menjadi lebih baik dan menikmati masa tua tanpa berutang tak perlu.


Saatnya generasi Z menjadi generasi yang kritis, produktif, dan solutif terhadap permasalahan yang ada. Seperti di salah satu halaman di buku Demara yang tertulis, "Kalau mertua nanti kalau sudah waktunya bukan?



Komentar