Nulis Kreatif ala Commers Tanpa Huruf 'I'

Hola!
Kali ini aku memutuskan untuk tetap menaruh beberapa portofolio aku di blog, barangkali ada yang tertarik aku buatkan tulisan. Portofolio kali ini adalah salah satu hasil dari mata kuliah Penulisan Kreatif di Ilmu Komunikasi Unair. Penasaran kan? 

Ini dia, tantangan menulis tanpa huruf 'i' sebagai salah satu tugas penulisan kreatif tentang nestapa. Selamat membaca.:)
Photo by Sharon McCutcheon on Unsplash

Kata mereka, hal yang membuat sengsara dalam tutur lakon hamba Tuhan seluruh alam semesta adalah tak ada rasa percaya pada Tuhan-nya, hutang yang tak pernah terbayar, dan perasaan yang terluka, tak mengantarkan rasa sayang padamu, orang yang telah membuka kotak perasaanmu. Aku hanya berkata, menjelaskan bahwa kata mereka adalah kebohongan belaka. Nestapa tak sesederhana dalam goresan pena, kegalauan yang muncul karena tuntutan orang.

Dalam sebuah kata kalau, nestapa merupakan ujung pembenaran jawaban, rentetan pertanyaan yang Tuhan kepada hambaNya. Mampukah makhluk yang telah terbentuk oleh tanah, menjawab tantangan tentang cara mereka percaya terhadap Tuhan saat satu per satu, hal yang pernah tergenggam, kabur dalam sekejap mata. Pernahkah engkau dalam hasrat yang menggebu, terlontar sebuah harapan untuk menamakan entah makhluk atau benda dalam kuasa engkau. Orang-orang yang kau sebut dalam do’a-do’amu agar Tuhan jaga, daftar benda yang selalu kau ucap merupakan harapan yang menandakan kesejahteraanmu.
Saat Tuhan berkata apa yang sudah kau dapat adalah harapan-harapanmu pada tempat yang fana, rasa sayang dan kekayaan, satu per satu kabur dalam genggamanmu. Termasuk waktu kamu jatuh dalam pelukan seseorang yang kamu suka, waktu yang kamu gunakan untuk bekerja, dan waktu kamu mendengar bahwa hal yang kau agung-agungkan, kau banggakan telah lenyap. Pada waktu tersebutlah, kamu jatuh, sejatuh-jatuhnya, dalam sebuah lubang yang menganga, luka yang menghantam. Teman-temanmu berdatangan padamu, atau mereka juga berusaha untuk tak datang. Mereka bercakap-cakap saat kamu berkata kamu tak apa-apa, kamu merelakannya.
Tak ada satu orang pun paham betapa dalam nestapa yang kau rasakan, walau mereka berkata mereka sangat tahu sejauh mana rasanya, selalu menekankan bahwa mereka pernah merasakan. Semua ketakutanmu, perasaan bersalahmu, serta tetesan dukamu, menjebakmu dalam pergulatan rasa dan kenangan. Jebakan nestapa selalu menjeratmu, kemanapun kamu melangkah. Beban yang kau rasakan, tak pernah mencoba untuk kabur sejenak pada pundakmu. Pada ujung waktu, sejarah yang akan berujar, kamu akan selalu dalam nestapa berkepanjangan.
[ Rizky Hanna Ekaputri ]

Komentar